(Day 19) KKL-DR 2020 IAIN Padangsidimpuan
Untuk mendapatkan anak yang cerdas, tambah Kusyairi, ibu harus menstimulasinya sejak anak masih dalam kandungan. Saat si ibu hamil, janin sering diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Lalu ketika ia lahir, rutin perdengarkan ayat-ayat Qur’an yang pendek. Bila anak mulai bisa diajak bicara, biasakanlah berbicara dengan kalimat-kalimat yang terkandung dalam Qur’an.
“Al-Qur’an dengan ayat-ayat hakiki menjadi sebuah teman dongeng yang hakiki. Anak diberi pengetahuan tentang kisah-kisah nabi, kemudian dimasukkan ke halaqah Al-Qur’an dan diperdengarkan murattal untuk membantunya menghafal,” sarannya lagi.
Namun yang paling efektif adalah keteladanan orangtua dalam berinteraksi. Akan sulit menstimulasi anak dengan hal-hal di atas sementara orangtua sendiri tidak menekuni Al-Qur’an.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selain membeirkan keteladanan, beliau pun sangat gemar membangkitkan semangat para sahabat para sahabatuntuk menuntut ilmu. Nabi juga selalu menyambut gembira anak-anak yang mau belajar Al-Qur’an dengan berkata, “Marhaban ya, Muthalib.” Rasa gembira ini juga patut kita contoh. Misalnya ketika anak berhasil mengkhatamkan Iqra atau Al-Qur’an, wujudkan rasa sukacita keluarga dengan berkumpul dan mendoakannya bersama. Ini akan menumbuhkan kepercayaan diri dan semangat untuk melanjutkan interaksinya dengan Al-Qur’an.
Sehabis subuh lebih fresh
BalasHapusInfo yang sangat bagus
BalasHapus